Kamis, 04 Juni 2015

KEHIDUPAN NYATA MASYARAKAT KOMODO

Siapa yang tidak kenal PULAU KOMODO !!!! sebuah pulau yang telah resmi menjadi salah 7 keajaiban Dunia dan diakui oleh dunia.sebuah kebanggaan bagi sebuah negara besar seperti indonesia dimana kekayaan pulau komodo menjadi devisa atau tabungan berupa uang tunai untuk kemajuan bangsa tapi bukan untuk masyarakat komodo.realita yang ada saya sebagai penulis sekaligus putra pribumi pulau komodo merasa kecewa dengan pemerintah.baik pemerintah pusat ataupun pemerintah kota yang hanya memandang sebelah mata dan tidak merasakan bagaimana pahitnya hidup dalam naungan 7keajaiban Dunia.dimana masyarakat harus beralih profesi menjadi pedagang patung yang sebelumnya adalah seorang pelaut,ruang limgkup nelayan kini menjadi sempit diamana ada batasan tertentuuntuk tidak di lalui para pelaut untuk di jadikan tempat mencari sesuap nasi,apakah ini yang di namakan masyarakat yang makmur ?? sayang seribu sayang pemerintah tak menganggap itu sebuah problem negara,seakan-akan semua ini telah di setting sedemikian rupa oleh pihak pemerintah dan lemabaga tertentu untuk mengelabui mayarakat komodo dengan gemerlapan Komodo New7Wonders.,bulssseeetttttt. Harapan ku sebagai penulis sekaligus putra pribumi sudikiranya para pejabat atau pemerintah pusat maupun kota untuk meluangkan sedikit waktu dari waktu santainya untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat pulau komodo sebenarnya,yang kita anggap selama ini hidup dalam kemegahan. sekarang merupakan masa revormasi,semua yang bernyawa berhak mendapat keadilan dan hidup dengan damai dan sejahtera,bukan hanya manusia,hewan sekalipun terutama masyarakat komodo yang masih miskin dengan keadilan dan kemakmuran. uuppsss bersambung dulu yaaa,,..lagi ada JOB ni facebook ku ; Ramayana S'khan twitter; @Rrama14

DIBALIK KEINDAHAN ADA KETIDAK INDAHAN

14 maret 1993 di waktu senja di sebuah kampung udik seorang ibu melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ramayana. kini sekarang sudah tumbuh besar menjadi manusia denga kejantanan seorang laki-laki,tumbuh besar di sebuah kampung yang sekarang menjadi incaran para wisatan dunia dan lokal, menjadi sesuatu yang membagakan untuk seorang Rama yang telah di lahirkan di kampung itu. namun di balik itu semua,sebelum menginjak masa dewasa saya Ramayana sebagai penulis sekaligus putra pribumi pulau komodo menyaksikan serta merasakan bagaimana rasanya hidup di sebuah pulau yang indah di panhdang oleh mata namun pahit rasanya ketika mata hati melihat kedurjanaan. teringat waktu usia ku genap 6 tahun dan harus dudul di bangku sekolah dasar saat itu aku tak tau apa-apa tentang kampung ku tapi serasa ada keanehan dimana di sebuah pulau yang kumu dengan penduduk yang penuh dengan rasa toleransi dan kekeluargaan sangat bahagia walaupun jauh dari cahay keindahan hidup yang layak,akupun merakan itu. tampa terasa detik di ganti menit,menit di ganti jam,jam di ganti hari dan minggu di tutup dengan bulan hingga tahunpun berganti,timbul rasa aneh dalam kehidupan di kampung tercinta dimana di hebohkan dengan menjadi bintang purbakala ikut dalam ajang New7wonder,binatang yang dikatakan ada keterikatan dengan nenek moyang orang komodo. sebagai masyarakat biasa kabar seperti itu tidak menjadi seseuatu yang dijadikan masalah,mereka hanya berfikir tentang kebersamaan dan rukun dalam berkehidupan sosial. sesuatu yang wajar karena notabene mereka berlatarbelakang pendidikan yang tak mapan untuk mersapi kejadian yang ada yang secara umum bukan tradiosional. masyarkat komodo yang berprofesi sebagai nelayan sangat bangga denga limpah ruahnya berbagai kehidupan di laut dengan kemegahan Allah ynag hakiki,namun semuanya terasa sirna ketika di umumkan bahwa pulau komodo masuk dalam kategori tempat yang akan di kunjungi oleh wisatan dunia dengan digelara sebagai New7wonders. namun ada duka yang memilukan dan luka yang dalam untuk orang kampung,kampung komodo dimana pemerintah hanya melihat sisi keperintahan yang menguntungkan perorangan,kelompok tertentu namu tak pernah membuka kedua mata hatinya untuk melihat apa sebenarnya kedukaan yang di rasakan oleh masyarakat pulau komodo. dulu para lelaki tanggung dengan bangga dan membusungkan dada dan berkata "saya seorang nelayan" tapi sekarang mereka seakan di paksa untuk meninggalkan kebiasaan mereka meninngal cara lama dan harus mengangti profesi menjadi seorang penonton,mengaloh profesi dari nelayan menjadi pedagan,souvenir,giud. sungguh hukuman yang pedih yang tak harus duraskan oleh tuan rumah. banyak keluh kesa dari bibir polos masyarkat kampung komodo yang berkeinginan bebas dari rantai kegelapan namun apa daya,melihat dari pendidikan yang tak bisa mendorong hati dan lidah untuk berbicara kepada sang penguasa sang berdasi betapa sakitnya hati ini. melihat keterpurukan itu kini menjdai cambuk untuk masyarkat pulau komodo untuk membuat suatu benteng pertahanan.membuka mata hati para orangtua untuk melanjutkan anak-anak mereka di bangku sekolah yang jenjangnya lebih tinggi dari mereka,kelak di kemudian hari bisa menjadi pahlwan sang hero untuk pulau mungil itu. saya merasa bangga dan kagum melihat orangtua berbondong-bondong menyekolahkan anaknya,salah satu dari mereka adalah saya ramayana yang terlahir dari keluarga yang sederhana,keluarga yang penuh cinta bertekat mencari kebenaran. saya berharap kepada teman-teman seperjuangan "Mari kita rapatkan barisan melawan siapa saja yang merugikan dan menganggu kehidupan kampung kita", jikalau teman-teman takut akan itu maka biarlah saya sendiri bersama dengan keberanianku dengan ijin Allah untuk melawan penjajah yang berdasi. ohh iya teman-teman saya hanya menulis isi hati saya berharap di kemudian hari ada jalan untuk mengubah semua mimpi itu. saya meras jadi orang asing di kampung ku sendiri pulau komodo,dan sakit hati ketika melihat penindasan yang terjadi,pasti teman-teman semua tau macam-macam penindasan itu, dansaya bertekat untuk melawan penindasn itu. "jikalau ada 1000 orang yang merontak sayalah salah satunya,jikalau ada 100 orang yang merontak sayalah salah satunya,jikalau ada 10 orang yang merontak sayalah salah satu dari 10 itu,jikalau ada 1 orang yang merontak untuk kebenaran maka satu itu adalah saya"